teras
blog
blogskins
jalan-jalan
kinarya
project
menyiklit

sepatumerah adalah seorang perempuan, nyaris 30, gemar menulis dan jalan-jalan

  • Lipogram Project: Ibuk Mboten Dhuko?
  • Lipogram Project: Art Museum and Small Birthday P...
  • Lipogram Project: Wanita-Wanita Ini
  • Lipogram Project : Mimpi Buruk
  • LIPOGRAM PROJECT : Logat Sunda Nu Lekoh.
  • Lipogram Project: Pencuri Timun
  • Lipogram Project: Perempuan-Perempuan Ini
  • LIPOGRAM PROJECT : Sinting
  • Lipogram Project: Mesin Hebat Yang Bikin Nginap
  • Lipogram Project: Timun Mas dalam Lipogram
  • March 2006
  • April 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • August 2006
  • Masukan e mail anda di sini untuk menerima pemberitahuan setiap saya mengupdate situs.

    Powered by NotifyList.com


    Free Counters
    hit Counter

    Lipogram Project: Kisah Mini dalam Lipogram
    Dodol Surodol @ 8/06/2006 11:21:00 AM

    Farah, mbok yao. Masak ngambilin jamblang aja kok ya di kuburan! Nggak ada buah laen yang lebih serem apa?! *lho*

    --8<---lipogram-mulai-----------------------

    Kisah Mini dalam Lipogram

    Diki masuk dalam hidup saya saat umur saya 6 tahun. Diki baru saja pindah dari Bandung. Rumah saya dan Diki tidak jauh, hanya dipisahkan 5 rumah. Saat itu adalah awal saya masuk SD. Saya dan Diki ada di SD yang sama, SDN XII Jakarta.

    SD saya tidak jauh dari rumah. Saya dan Diki tinggal jalan kaki. Dari ajang coba-coba kami, akhirnya kami tahu bahwa jalan singkat untuk sampai di SD, kami harus susur kuburan. Tapi itu bukan masalah bagi kami. Saya dan Diki bukan orang yang mudah ditakut-takuti. Saat itulah kami tahu bahwa di kuburan itu ada pohon jamblang yang buahnya kami sukai.

    Diki makhluk ajaib. Rambutnya lurus dan hitam, kulitnya coklat, tinggi kami hampir sama dan dia punya ciri khas suka narik jambul rambutnya. Tawa Diki sangat riang. Jika ada yang tanya siapa nama panjangnya, Diki akan jawab "Yaaa dikira-kira ajaaa". Lucu. Makanya, jika ada yang tanya siapa nama panjang saya, saya pun akan jawab "Yaaa lu kira-kira ajaaa".

    Mulai hari itu, hari-hari kami sangat indah. Kami main sama-sama. Main gundu, main layangan, naik pohon jambu air, jambu Cingcalo namanya, naik macam-macam pohon yang kadang sulit saya bayangkan, dan mainan laki-laki lainnya.

    Di suatu siang di hari Minggu, saat itu umur saya 9 tahun. Saya dan Diki ada janji untuk naik pohon jamblang yang kala itu buahnya sangat banyak. Kami ajak 3 kawan kami yang lain biar ramai. Dari rumah, saya sudah siap-siap bawa gula putih dan saya masukkan dalam kantong plastik. Akhirnya, kami, lima anak laki-laki, siap ambil buah jamblang. Ya, di kuburan.

    Awal masuk kuburan, saya ingat apa yang diingatkan Ibu saya, yaitu jangan takut sama kuburan dan tidak ada mayit yang akan bangkit lagi. "Mayit-mayit itu sudah punya urusannya masing-masing sama Tuhan-nya, Luki", kata Ibu saya. "Malah ada adab-adabnya jika kita ada di kuburan", lanjut Ibu saya. "Apa itu?" tanya saya antusias. "Ucapkan salam, assalaamualaikum ya ahlal kubur, dan jangan banyak gurau, apalagi sampai ada bahakan tawa", ujar Ibu saya.

    Ah, akhirnya sampai juga kami di pohon jamblang. Saya, Diki dan kawan-kawan yang lain mulai naik pohon jamblang. Di antara kami tidak ada yang bawa galah, itu bukan cara kami untuk bisa makan buah jamblang. "Itu, itu, di dahan itu banyak tuh", tunjuk saya pada Diki girang. Saya hanya ambil buah jamblang warna ungu, itu tanda bahwa buah itu sudah masak. Saya sangat hati-hati ambil buah itu agar jangan sampai jatuh, buah jamblang itu buah yang mudah hancur. Saya pun dapat 20 buah jamblang, tidak tahu Diki dan yang lain.

    Plastik saya yang ada gulanya, kini sudah ada buah jamblang warna ungu di dalamnya. Lalu saya kocok, baru saya makan. Saya lihat, Diki pun sudah mulai makan buah jamblang. Plastik Diki isinya garam. Yah, itu kan hanya masalah rasa yang paling disukai saja. Uhhh rasanya manis, asam, ramai lah. Habis makan buah jamblang, biasanya mulut dan lidah warnanya jadi ikut ungu, dan itulah salah satu daya tarik buah jamblang bagi saya dan Diki. Lidah mulai kami julurkan, dan suara bahakan tawa kami pun hadir. Kami lupa bahwa kini kami ada di atas tanah kuburan dan saya pun lupa sama adab-adab itu. Hahahaha :)

    Kata kakak saya, jamblang itu masih satu famili sama jambu air. Kayunya baik digunakan untuk bahan bangunan. Walaupun ukuran dan warnanya mirip buah anggur, dalam bahasa Inggris buah jamblang dinamakan java plum, mungkin gara-gara sama-sama punya biji satu. Ah, kakak saya pasti tahu hal-hal itu, dia kan sudah SMA, dan dia orang yang pandai.

    Plastik kami kini sudah banyak buah jamblang di dalamnya. Akhirnya kami pun turun dan pulang. Tawa riang masih lingkupi kami sampai rumah masing-masing.

    --8<---lipogram-selesai---------------------

    ::Kisah mini di atas adalah fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat dan peristiwa, itu hanya kebetulan belaka yang memang saya sengaja :).

    Dengan menulis tanpa huruf e seperti kisah mini di atas, saya merasa seperti telah melakukan character assasination. Ya, pembunuhan karakter dalam arti sebenarnya :)


    Ayo, ayo, siapa menyusul? Kirimkan lipogram Anda dengan subjek "Lipogram Dong!"

    |