|
sepatumerah adalah seorang perempuan, nyaris 30, gemar menulis dan jalan-jalan |
Hanin's Shoes Story : Sepatu Kredit Untuk Lamaran
Saya bukan model orang yang suka punya sepatu. Saya selalu pakai satu sepatu yang sama, setiap hari, ke mana-mana. Paling nanti kalau udah rusak dan nyaris ngga bisa dipakai, baru saya beli sepatu baru. Yang murah, tentu saja. Sekali tempo saya kena batunya. Waktu itu saya masih kuliah sambil kerja di Jakarta. Sambil ngurusin skripsi, ngurusin juga rencana masa depan mau nikah dengan teman SMA di kota kelahiran. Salah satu prosesnya tentu saja acara lamaran. Nah, tahu kan namanya lagi bikin skripsi, sibuk kesana kemari cari bahan referensi. Belum lagi ke tempat narasumber, lalu ngejar-ngejar dosen untuk konsultasi. Biaya besar, dan tentu saja sepatu kesayangan saya turut bekerja keras dipakai lari ngejar metromini. Karena ketatnya jadwal, saya sengaja akan pulang kampung hanya semalamsebelum acara lamaran. Jadi kalau malam ini pulang, besok sore langsungacara. Paginya saya masih sempat konsultasi dulu ke dosen. Pulangnya,hujan. Banjir -- biasa, Jakarta. Sampai di tempat kos, baru saya sadar kalau sepatu saya sudah menganga: seperti buaya! Ya ampun. Dua jam lagi saya harus naik bis ke kampung, jadi harus sempat-sempatin beli sepatu dah. Ngga mungkin kan pakai sepatu begitu ke tempat acara. Tapi rupanya tragedi belum berakhir. Uang di kantong cuma cukup untuk bayar karcis pulang-pergi ke kampung! Tabungan pun sudah limit, minggu lalu sudah ditransfer ke kampung untuk ongkos sewa mobil. Lagi panik begitu, datang teman kuliah saya. Tumben. Ujan-ujan pula datang ke mari. Tapi rupanya dialah penyelamat saya: dia mau jualan sepatu! Eits, nanti dulu. Yang dijual ini pun bukan betul-betul sepatu baru. Dia baru beli sepatu untuk adiknya, tapi nomornya ngga pas. Kekecilan. Jadi ditawarkanlah sepatu nomor 41 itu ke saya. Hm, nomor saya sebetulnya 40,tapi ngga apa lah daripada ngga ada. Dan, karena dia pun dijual rugi, sempat pula saya tawar. Dua hal yang saya tawar. Harga, dari tadinya 200ribu jadi 150ribu. Dia setuju. Kedua, saya bayar cicil tiga kali. Ah, kawan ini ketawa ngakak. Saya ngga ingat persis gimana cara saya ngejelasin ke dia situasi konyol yang saya hadapi, tapi akhirnya dia setuju -- meski sambil mengumpat.Sepanjang acara lamaran, tiap melangkah, duduk menunduk, saya ingat terus status sepatu kredit yang saya pakai itu... -hanin- |