|
sepatumerah adalah seorang perempuan, nyaris 30, gemar menulis dan jalan-jalan |
Cerita Sepatunya Vany : My Mistress
Sepatu ini sebenarnya bukan milikku, tapi milik kakakku. Walau begitu diantara kami ada sebuah cerita yang tidak seorangpun tahu (setidaknya sampai detik aku menulis cerita ini). Sekarang aku ingin menceritakan rahasia ini kepada kalian, rahasia antara aku dan sepatu yang bukan milikku. May I? Aku dan kakak memang tidak pernah sejalan dalam banyak hal termasuk juga dalam hal selera. Walau size kami tidak jauh beda (aku lebih besar satu-dua nomor), tapi kami hampir tidak pernah bertukar barang karena masalah selera tadi. Seringnya dia mengolok-olok aku karena aku jarang belanja barang (I hate mall and crowded place). Kalaupun beli, barang pilihanku harus yang benar-benar bagus dan beda. Makanya walau sedikit, aku cinta dengan barang-barangku. Aku tidak terlalu suka barang-barang pilihannya, karena terlalu girly dan suka kelewat mahal. Seperti sepatu ini, awalnya dia juga kuhina dina karena (as you see) warnanya yang minta ampun parah, norak banget!!! Suatu waktu dia harus pindah ke Jakarta untuk sementara, dan dia meninggalkan sepatunya ini di Bandung. Nah, saat itulah pertama kali aku terlibat ‘affair’ dengan sepatu ini. Itupun awalnya hanya karena kepepet. Hari itu hari Minggu dan aku harus ke gereja pagi-pagi untuk mengajar Sekolah Minggu. Ketika terburu-buru keluar, sepatuku kebaret ujung pintu hingga robek. Karena sudah terlambat dan aku tidak punya sepatu gereja cadangan (aku ga mungkin pake sendal jepit swallow khan!) aku ‘meminjam’ sepatu kakaku ini. Asli, awalnya aku dongkol banget harus ke gereja pakai sepatu norak norak bergembira seperti ini, mana bikin kakiku lecet-lecet lagi (sepatu ini nomor 39 sedang kakiku nomor 41). Ketika pulang, aku melempar sepatu ini kesudut kamarku karena kesal, kakiku yang indah jadi luka-luka! Tapi entah mengapa, setelah melakukannya aku merasa bersalah karena sudah ‘menyakiti’ si sepatu. Lalu aku mengambil si sepatu dan memakainya kembali. Kupandangi lama sepatu itu, dan entah mengapa aku menjadi suka dengannya, dia terlihat cantik di kakiku. Kurasa secara visual, sepatu ini memang lebih cocok bila melekat di kakiku dibanding bila melekat di kaki kakakku. Kakakku kulitnya gelap, jadi suka ga pantes dengan warna hijau seperti ini. Tapi berhubung kakiku kebesaran untuk nomor sepatu ini, aku tidak lagi memakainya untuk berjalan. Sepatu ini tetap kusebut My Mistress, karena aku menyukainya tapi selalu gigih mengingkarinya. Ketika kakakku pergi aku sering dengan sembunyi-sembunyi memakainya, sekedar untuk kupandangi dan kukagumi. Karena tidak ingin kakakku tahu, aku hanya memakainya di kamar yang kukunci dari dalam. Aku memang tidak pernah lagi memakainya secara fungsional sejak hari Minggu itu, tapi aku tidak pernah lupa membersihkannya dan mengecek keadaannya. Sepatu ini terlihat sangat pas di kakiku, namun aku tidak pernah ingin memakainya keluar dan menunjukkan kepada semua orang betapa serasinya kami. Karena itu berarti akan menyakiti diriku (lecet!), menyakiti kakakku (dia sebel kalau tahu aku mencuri-curi pakai barangnya tanpa izin), dan menyakiti dirinya sendiri (dia bisa melar dan bentuknya tidak langsing lagi karena kakiku lebar). Tidak ada pihak yang akan diuntungkan oleh hubungan yang tidak seharusnya ini. Itulah mengapa sampai sekarang dia tetap, dan akan selalu menjadi my mistress!! |